keahlian dalam mendidik anak

Masa depan anak-anak yang gemilang merupakan keinginan yang wajar bagi setiap orang tua. Para orang tua berharap putra-putrinya akan menjadi orang yang sukses, berilmu serta berkarakter. Untuk mewujudkan hal itulah semua orang tua sangat berperan dalam mendidik anak anaknya dengan menjadi lebih baik lagi.

Demikian diungkapkan pemerhati anak, Dr Seto Mulyadi atau yang akrab dipanggil Kak Seto saat mengisi seminar di rumah sakit jiwa daerah (RSJD) RM Soedjarwadi Klaten, Jawa Tengah, Sabtu (24/10).

Kontributor Elshinta, Wiwiek Endrawati melaporkan, seminar yang bertajuk "Tumbuh Kembang Anak dan Remaja" itu digelar Rumah Sakit tersebut dalam rangka memperingati hari kesehatan sedunia (HKS) yang ke-12 tahun.

Menurut Kak Seto, perkembangan anak yang baik dimulai sejak masa bayi, dimana bayi-bayi yang memperoleh berbagai rangsang mental dalam bentuk pengalaman yang kaya, juga cenderung akan memiliki perkembangan jiwa yang sehat.

Pengalaman tersebut dapat berupa sentuhan yang hangat, dekapan, belaian, senandung lagu-lagu yang merdu atau melalui dongeng-dongeng indah yang dibacakan ibu dalam suasana kasih sayang yang hangat.

"Bayi-bayi yang memperoleh sentuhan emosional demikian, akan tumbuh sehat dan cerdas kelak dikemudian hari," jelasnya.

Kemudian saat usia remaja yang sering dianggap sebagai masa storm and stress, yakni masa yang penuh badai dimana anak sering merasa frustasi, perasaan jatuh cinta, keinginan menentang dan sebagainya. Masa ini merupakan masa pencarian identitas diri, salah satunya ditandai dengan pembentukan gang atau peer group.

Dalam masa ini anak harus perlu dihadapi dengan kasih sayang dan membina komunikasi yang efektif antara orang tua dan anaknya.

Disisi lain, keberhasilan suatu pendidikan juga sering dikatakan dengan kemampuan para orang tua dan guru dalam hal memahami anak sebagai individu yang unik. Dimana setiap anak dilihat sebagai individu yang memiliki potensi-potensi yang berbeda satu sama lain, namun saling melengkapi dan berharga.

Ada beberapa catatan lagi yang perlu diperhatikan dalam upaya memahami anak, diantaranya meniru, karena salah satu proses pembentukan tingkah laku mereka adalah diperoleh dengan cara meniru.

Selain itu kreatif, anak-anak pada dasarnya adalah kreatif. Mereka memiliki ciri-ciri yang oleh para ahli sering digolongkan sebagai individu yang kraetif, misalnya rasa ingin tahu yang besar, senang bertanya, imajinasi yang tinggi dan sebagainya. Namun sering dikatakan bahwa begitu anak masuk sekolah, kreatifitas anakpun semakin menurun.

Hal ini sering disebabkan karena pengajaran di SD, SMP dan SMA terlalu sering menekankan pada cara berpikir secara konvergen, sementara cara berpikir divergen kurang dirangsang.

Dalam hal ini maka orang tua perlu memahami kreatifitas yang ada pada diri anak-anak, dengan sikap luwes dan kreatif pula. Bahan-bahan pelajaran disekolah termasuk ulangan dan ujian hendaknya tidak sekedar menuntut anak untuk memberikan satu-satunya jawaban yang benar menurut guru atau kunci. Kepada mereka tetaplah perlu diberi kesempatan untuk mengembangklan imajinasinya secara "liar", dengan menerima dan menghargai adanya alternatif jawaban yang kreatif.

Sementara itu terkait dengan peringatan HKS, Direktur RSJD RM Soedjarwadi, Dokter Tri Kuncoro mengatakan pihaknya berharap masyarakat jangan mendiskriminasi orang dengan gangguan jiwa, orang dengan gangguan jiwa jangan dikucilkan.

"Kepada masyarakat harus terus ditanamkan tentang pengetahuan tentang kesehatan jiwa, bahwa gangguan jiwa bukan penyakit kutukan, gangguan jiwa bisa diobati. Kami berharap tidak ada lagi penderita gangguan jiwa yang dikurung atau mengalami pemasungan, pengasingan dari masyarakat. Masyarakat diharapkan untuk memberikan perhatian dan turut berperan serta aktif dalam pembangunan kesehatan jiwa. Selain itu juga masyarakat dapat kembali disadarkan untuk bisa menerima kembali para penderita gangguan jiwa dalam pergaulan dimasyarakat," tandasnya.

 
 

Berita Lainnya

Galerry Photo
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
Galerry lainnya